BerandaArtikelBagaimana Pemimpin Dapat Menyelamatkan Perusahaan dengan Menyesuaikan Budaya Tempat Kerja
article-image

29 October 2020

Bagaimana Pemimpin Dapat Menyelamatkan Perusahaan dengan Menyesuaikan Budaya Tempat Kerja

Bukan rahasia lagi bahwa COVID-19 telah membawa tantangan dan perubahan yang signifikan terhadap ekonomi. Sebuah artikel yang diterbitkan oleh Tempo.co melaporkan prediksi tentang bagaimana pandemi akan membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia negatif, dengan kisaran antara -1,1 dan 2,0 persen, sementara pengangguran diperkirakan akan mencapai 9,2 persen. Kondisi ini tidak dapat disangkal akan mempengaruhi perusahaan dan budaya mereka, mulai dari rekrutmen hingga pengambilan keputusan.


Dari sudut pandang yang lebih optimis, memang benar bahwa pandemi juga memiliki banyak lapisan perak untuk budaya perusahaan. Pertemuan, misalnya, sekarang jauh lebih pendek dan lebih efektif dibandingkan dengan pertemuan tatap muka pra-pandemi, konvensional, tatap muka. Kerja jarak jauh juga secara menarik dilaporkan telah menyebabkan komunikasi yang lebih baik antara anggota staf. Bahkan telah menciptakan peluang bagi kelompok minoritas dan kurang terwakili untuk memberikan kontribusi.


Namun, lebih jelas untuk melihat bahwa pandemi telah membawa ancaman yang cukup besar. Sebagai "sentakan lingkungan", COVID-19 menyulitkan perusahaan untuk memprediksi dan meramalkan hasil. André Spicer, seorang ahli perilaku organisasi dari University of London, juga menemukan bahwa pandemi dapat membuat karyawan merasa tidak tenang dan organisasi bereaksi berlebihan. Dalam waktu yang sulit seperti itu, para pemimpin bisnis dapat dengan bijak membantu perusahaan tetap bertahan dengan mengubah budaya perusahaan untuk memenuhi kualitas yang diperlukan.


Budaya Jaminan

Selama situasi yang tidak pasti seperti pandemi, para pemimpin harus menciptakan budaya di mana anggota staf dapat merasa yakin dan aman. Sementara situasi kritis dan tidak dapat diprediksi membuat perusahaan lebih rentan terhadap kecerobohan, penting bahwa karyawan tetap tenang dan tenang. Ketika para pemimpin memberikan keputusan kepastian, bahkan untuk tindakan yang paling tertentu, dapat diambil lebih wajar. Dengan kata lain, budaya jaminan dapat membantu perusahaan menghindari risiko yang tidak perlu.


Budaya Ketahanan

Analisis Spicer mengungkapkan bahwa budaya perusahaan selama pandemi umumnya bergeser "dari eksplorasi dan kreativitas ke keselamatan dan ketahanan". Memang benar bahwa perusahaan harus kreatif, terutama pada saat-saat ini. Namun, sama benarnya bahwa perusahaan harus tetap kuat untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, para pemimpin bisnis dapat merekrut karyawan potensial dengan kualitas tangguh sambil menghargai yang sudah ada. Bagaimanapun, sebuah perusahaan sama tangguhnya dengan anggotanya.


Budaya Refleksivitas

Pandemi ini adalah saat yang tepat bagi perusahaan untuk merenungkan budaya dan perilaku bisnis mereka yang sudah ada sebelumnya. Pada saat ini, para pemimpin dapat memperkuat budaya refleksivitas untuk memeriksa hubungan perusahaan dengan pelanggan. Dengan kata lain, budaya refleksif dapat memicu identifikasi masalah yang berkaitan dengan cara perusahaan menampilkan diri di depan pelanggan. Dengan tetap sadar diri secara refleks, perusahaan dapat membangun reputasi yang lebih baik dan citra yang lebih dapat dipercaya.


Budaya Empati

Last but not least, perusahaan membutuhkan budaya empati sekarang lebih dari sebelumnya karena pekerja menghadapi saat-saat sulit seperti halnya perusahaan. NVIDIA telah memberikan contoh yang bagus dengan mengadakan webinar tentang manajemen kesehatan mental bagi karyawannya, karena pandemi mempengaruhi kondisi mental pekerja. Dengan memprioritaskan kesejahteraan pekerja mereka, para pemimpin NVIDIA telah memberi contoh bagaimana menciptakan budaya empati memungkinkan perusahaan dan karyawan untuk bertahan hidup.


Singkatnya, budaya perusahaan perlu disesuaikan dengan karakteristik spesifik yang memungkinkan perusahaan untuk menghadapi situasi pandemi yang sedang berlangsung. Beberapa kualitas ini adalah jaminan, ketahanan, refleksivitas, dan empati. Dengan memasukkan kualitas-kualitas ini ke dalam budaya perusahaan, para pemimpin seperti Anda dapat menyelamatkan perusahaan selama saat-saat kritis ini sambil melakukan perbaikan pada saat yang sama. Pertanyaannya adalah, apakah Anda bersedia?

Apakah informasi ini membantu?

Related Article